COVER STORY

Kris Budiyono   
Mengubah “Sekolah Berkubang”
Jadi Adiwiyata Nasional

Pada mulanya, lingkungan sekolah seperti kubangan, banyak genangan air. Pohon tinggi langka, hari-hari terasa gerah, panas. Akibatnya, suasana belajar mengajar pun tidak menyenangkan.
Bermula dari inilah, niat untuk ‘menyulap’ lingkungan sekolah menjadi asri, teduh, rindang, hijau mulai tergerak dari hati Kris Budiyono SPd MPd. Kris yang diangkat sebagai Kepala SMP Negeri 1 Grogol , Sukoharjo itu pun langsung berpikir keras, mulai tahun 2011 langsung bekerja tanpa banyak bicara, menggandeng semua stakeholder pendidikan di Kabupaten Sukoharjo.
Hasilnya? SMPN 1 Grogol Sukoharjo berhasil meraih penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional 2018 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan pada 21 Desember 2018, di Jakarta.  Tentu saja, untuk meraih ini semua tak semudah seperti membalik telapak tangan. Tapi butuh waktu selama 7 tahun untuk meraih penghargaan tersebut.
Siapakah Kris Budiyono? Lahir di Surakarta, 17 Agustus 1969.  Bersekolah SD hingga SMA di Wonogiri, yaitu SDN 1 Pule Wonogiri, SMPN 1 Selogiri dan SMAN 2 Wonogiri. Tahun 1994 lulus sebagai sarjana di Universitas Bangun Nusantara Sukoharjo. Melanjutkan S2 UNS Solo lulus 2006. Tahun 2008 sabet beasiswa kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, dan berhasil memperoleh sertifikat pendidik.
Bersama istri tercinta, Endang Siti Khotijah SPd, kini tinggal di Martodranan RT 01 RW 03 Pasar Kliwon. Suami istri ini dikarunia 3 anak yaitu Farih, Hisyam, dan Aisyah.
Pada awalnya, berkarir sebagai guru  di STM Bina Karya. Ingin memperbaiki nasib, mencoba peruntungan sebagai CPNS. Setelah lulus, bertugas perdana di SMPN 1 Sukoharjo sejak 1998-2012. Sejak 2012 sebagai kepala SMPN 1 Grogol hingga sekarang.
Berbagai inovasi dan gebrakannya dalam memanage sekolah membuahkan hasil Tahun 2014 terpilih sebaggai kepala sekolah teladan. Di tahun yang sama, sekolah yang dipimpinnya berhasil memperoleh Adiwiyata tingkat Provinsi, dan pada 2018 berhasil  meraih puncak prestasi sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional.
Atas berbagai prestasi yang diraih Kris, kini SMPN 1 Grogol ditunjuk sebagai Sekolah Rujukan kedua setelah SMPN 1 Sukoharjo.  Apa dan bagaimana sepak terjang Kris dalam meraih penghargaan Adiwiyata Nasional?
Berikut ini bincang-bincang  C. Gunharjo Leksono, wartawan GENTA dengan  Kepala SMPN 1 Grogol Kris Budiyono.

Mohon diceritakan sekilas tentang latar belakang dilaksanakannya program Adiwiyata di SMPN 1 Grogol.

Pada awalnya, kami melihat siswa-siswi saat kegiatan belajar mengajar merasa tidak nyaman, kelas terasa panas, belajar pun menjadi tidak menyenangkan. Itu semua akibat lingkungan sekolah yang gersang, tak ada pohon besar. Bahkan, di beberapa tempat banyak kubangan air,  sehingga saat hujan deras sekolah pun penuh dengan luapan air hujan.  Sejak itulah, kami membulatkan tekad untuk menanam pohon, menghijaukan lingkungan sekolah.

Bagaimana tantangannya dalam menyukseskan  program sekolah Adiwiyata?

Untuk  melaksanakan Sekolah Adiwiyata bukan perkara mudah. Namun, dengan dukungan dari berbagai pihak, guru, staf, siswa-siswi, dinas pendidikan Kabupaten Sukoharjo, DLH Sukoharjo, swasta, akhirnya bisa berjalan dengan baik.  Semua butuh proses, tidak bisa langsung jadi. Kami jalankan program Sekolah Adiwiyata dengan membentuk tim, ada ketua, sekretaris, dan lainnya. Semua bekerjasama, bahu membahu menyukseskan Sekolah Adiwiyata.

Mohon jelaskan langkah utama yang dilakukan agar lingkungan sekolah cepat hijau, cinta lingkungan, serta pembiasaan pengamalan nilai-nilai Adiwiyata dalam keseharian baik di sekolah di rumah.

Langkah pertama, kami menanam apa saja yang bisa ditanam. Tentu saja, ada program utama yaitu membeli pohon yang sudah besar, sudah siap berbuah. Bagi kami, walau harganya mahal, bukan menjadi halangan. Ada yang seharga Rp 500 ribu, ada pula yang bernilai jutaan rupiah. Tapi, semua itu saya beli agar proses penghijauan cepat, dan kegiatan belajar mengajar pun jadi menyenangkan.
Kedua, semua guru dan siswa terlibat. Bahkan, setiap kelas memiliki taman kelas. Semua tanaman ditanam dan menjadi tanggung jawab perkelas.  Hampir setiap jengkal tanah yang bisa ditanami, pasti ada tanamannya, kecuali lapangan penuh dengan rumput yang menghijau.
Ketiga, kami membuat sumur resapan yang berfungsi untuk menampung  air hujan. Walau baru ada 2 buah sumur resapan, tapi itu sudah sangat membantu dalam mengurangi genangan air sekolah.   Sekolah pun bebas dari bencana banjir.

Bagaimana dengan pemanfaatan limbah? Mulai dari sampah, plastik, dan lainnya?

Untuk daun yang jatuh dari pohon, kita kumpulkan. Kita memiliki composer, daun tersebut bisa dijadikan sebagai pupuk kompos.  Untuk limbah plastik, berkat dukungan guru dan siswa, limbah plastik dimanfaatkan sebagai prakarya.  Bukan hanya plastik, keramik bekas pun bisa dijadikan sebagai prakarya, yang dibimbing langsung guru Seni Budaya Mulyani SPd.  
Hasilnya?  Tutup botol bekas minuman gelas menjadi topi, plastik deterjen jadi tas atau baju, kresek menjadi dompet dan tas, dan lainnya.

Apa yang bisa dipetik dari diraihnya Adiwiyata Nasional?
Kami bersyukur atas prestasi itu, tentunya, harapannya sekolah kami semakin maju dan berkembang. Sekarang ini, banyak sekolah lain yang berkunjung ke sini untuk berguru tentang apa saja, dan semua kami layani dengan baik.  
Sebenarnya, kami menghijaukan sekolah, menanamkan pendidikan karakter untuk cinta lingkungan bukan untuk sekadar  mendapatkan penghargaan. Tujuan utama kami adalah menanamkan  kepada siswa agar cinta lingkungan hidup. Selain itu, bisa melaksanakan nilai-nilai tersebut baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Jadi, bukan sekadar teori saja, tetapi dilaksanakan dimanapun siswa berada.
Sebagai contoh, siswa yang melihat sampah di halaman atau lingkungan sekolah, langsung mengambilnya. Jika belum ada tempat sampah, maka akan memasukkan ke kantong celana atau baju. Itu sebagai bukti siswa yang peduli lingkungan, bukan sebatas teori tetapi melaksanakan dalam kehidupan nyata.

Suka dukanya saat berjuang menjadi sekolah adiwiyata nasional??

Yah... banyak sukanya. Walau banyak guru yang lembur hingga malam, tetapi pekerjaan ini dijalani dengan ikhlas. Saya salut untuk kerja keras semua tim adiwiyata, guru, siswa, dan semua pihak yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Selain itu, para pendidik kami juga banyak yang menjadi nara sumber tentang Sekolah Adiwiyata, diundang di berbagai seminar. Ini prestasi yang membanggakan juga.
Tugas ke depan semakin berat. Untuk mempertahankan prestasi lebih berat. Memang, setelah meraih penghargaan sebagia sekolah adiwiyata nasional, maka masih ada tugas maha berat lainnya yaitu menuju sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri.
 ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanjat Tiang Bendera Raih Beasiswa Hingga S1

Nining Mariyaningsih SPd MPd: Pembelajaran Inovatif Si “Apem Manis”

Endang Rahayu MH SPd MPd, Putri Gunung Merapi Pengoleksi Prestasi