Dinda Nur Safira Duta Pariwisata Solo
Pada mulanya, mengikuti ajang Putra Putri
Solo 2018 hanya iseng semata. Ia turut meramaikan acara tahunan tersebut untuk
mengisi liburan saja. Faktanya, Putri Solo 2017 menyematkan Anggia Permata Sari memasangkan mahkota
Putri Solo di kepalanya, yang berarti Dinda dinobatkan sebagai Putri Solo 2018.
Sementara Fathullah Abdul Aziz menyabet gelar Putra Solo 2018.
Balai Kota Solo pun riuh rendah penuh
dengan pujian dan sorak sorai pendukungnya. Dinda tak menyangka akan menjadi
pemenangnya. Sejak itu pula, tugas besar disematkan di pundaknya: menjadi duta
Kota Solo khususnya dalam mempromosikan pariwisata dan potensi lainnya. Pemenang pasangan Putra Putri Solo berhak
menerima bonus senilai Rp 5 juta, busana Jawi Jangkep lengkap dari Wali Kota
Surakarta FX Hadi Rudyatmo.
"Saya tidak menyangka menjadi pemenang
di ajang putra putri Solo 2018," kata Dinda usai dinobatkan sebagai Putri
Solo 2018.
Kemenangannya tak lepas dari kepiawaiannya
menjawab pertanyaan dewan juri di
antaranya Pembina Paguyuban Putra Putri Solo, R.Ay. Febri Hapsari Dipo Kusumo,
BRM Bambang Irawan, akademisi dan budayawan, Irawati Kusumorasri, pegiat seni
di Solo, Aldino Wisnu, Putra Solo 2007, dan Rory Asyari, Putra Solo 2006.
Selain dinobatkan Putra Putri Solo 2018,
juga ada pemenang di berbagai kategori yaitu persahabatan, favorit, dan
kategori lingkungan.
Mahasiswa semester III Universitas Gadjah
Mada ini ikut bertarung dalam Putra Putri Solo untuk mencari pengalaman baru,
menambah ilmu dan yang tak kalah penting sebagai ajang menggali potensi diri.
Kemenangannya ini juga bertolak belakang
dengan fakta kesehariannya. Sebab, selama ini Dinda dikenal sebagai cewek
tomboy yang suka travelling, dan hebohnya lagi, suka main basket.
"Kalau saya menang, saya anggap
sebagai bonus bagi perjalanan hidup saya. Ini pencapaian yang luar biasa bagi
hidup saya," ujar calon dokter gigi ini.
Kebahagiaan semakin lengkap setelah Wali
Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menyerahkan selempang dan trofi Juara 1 PPS 2018 kepada
Dinda dan Aziz.
Rudi bangga dengan PPS 2018 bertema Benang
Merah Nusantara, selain mendapat sponsor utama BRI dan Kementerian Pariwisata,
ajang PPS untuk menyuarakan persatuan bangsa. Sebab, isu perpecahan sudah
menjalar sejak lama.
Menurut Dinda, acara grand final menjadi
lebih bermakna karena para finalis tampil membawakan Tari Prawira Tamtama.
Hikmah bagi Dinda, ia bukan hanya bisa menari, tetapi memetik semangat Tari
Tamtama dan nilai-nilai positif yang menggambarkan keprajuritan.
"Saat orientasi, kami mendapat ilmu
banyak tentang Budaya Jawa," uja alumnus SMA Negeri 3 Solo.
Bukan hanya menari, para finalis juga
melakukan kunjungan ke museum sebagai sarana untuk belajar sejarah. Mereka pun berkunjung ke Museum tertua di
Indonesia Radya Pustaka. Juga ke Museum Batik Danar Hadi, berlanjut ke Museum
Keris, yang diresmikan Presiden Joko Widodo tahun 2017.
"Saya jadi paham tentang macam-macam
keris. Tentunya, juga bangga sebab keris merupakan karya seni tinggi yang telah
ditetapkan The United Nations Educational Scientific and Cultural Organization
(UNSECO) sebagai warisan kebudayaan
dunia yang berasal dari Indonesia," ujar sulung dua bersaudara ini.
Atas kemenangan Dinda, ia pun menjadi wakil
Surakarta untuk maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah dalam ajang Duta Wisata
Jawa Tengah 2018.
Nah, saat lomba di tingkat Provinsi Jawa
Tengah, salah satu syarat lainnya yaitu membuat vlog tentang potensi kota Solo.
Dinda membuat vlog bertema batik di Joho, Manahan, Banjarsari, Solo.
"Kalau banyak yang like di channel
Youtube Dinda, menjadi nilai tambah saat lomba di Provinsi Jawa Tengah,"
ucapya.
Mengapa harus melalui youtube? Sebab,
generasi milenial saat ini tak bisa dilepaskan dari dunia gadged. Mereka bisa
belajar tentang budaya dan pariwisata dari hanphone.
Dinda pun mengaku puas saat pembekalan di
Pendapa Loji Gandrung, Rumah Dinas Wali Kota Solo. Ia mendapat ilmu dan nasehat
dari Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.
Tema yang diangkat Pemimpin yang Berjiwa Jawa dan Berwawasan Nusantara. Rudy
bercerita tentang semangat akar yang luar biasa, mencari air tanpa mengeluh.
Pohon pun bisa rindang, berbunga dan berbuah. Dan, akar akan terus berjuang
tanpa mengenal lelah.
Dan yang tak kalah pentingnya, Putra Putri
Solo mendapat tugas membangun lima budaya hidup yaitu budaya hidup gotong royong, memiliki, merawat,
menjaga, dan mengamankan Kota Solo.
"Semua itu harus diawali dari keluarga
kita masing-masing," ujar Dinda.
Pengalaman heboh lainnya, Dinda belajar
memasak makanan Jawa bertemakan Nusantara Rise, dipandu langsung Ketua Tim
Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Solo, Elisabeth Endang
Prasetyaningsih Hadi Rudyatmo.
Ketua Panitia Pelaksana PPS 2018 RAy. Febri
H. Dipokusumo menyatakan penilaian PPS
2018 saat dikarantina selama 11 hari dan saat penilaian di panggung final.
"Tema PPS 2019 yaitu The Spirit of
Indonesia," kata Febri.
PPS 2018 lebih spesial atas hadirnya Putri Indonesia Pariwisata 2018, Wilda
Octaviana Situngkir, Dimas Diajeng Yogyakarta, putra dan putri dari Surabaya
dan Jateng.
GUNHARJO
Pemenang PPS 2018:
Putra Solo 1: Fathullah Abdul Aziz (18)
Mahasiswa asal Timuran Banjarsari.
Putri Solo 1: Dinda Nur Safira (19)
Mahasiswa asal Kepatihan Kulon, Jebres.
Putra Solo 2: Rahardyan Susilo Nugroho (18)
Mahasiswa asal Manahan, Banjarsari.
Putri Solo 2: Jessica Primanita Ramadhani
(22) Mahasiswa asal Sewu, Jebres.
Putra Solo 3: Sofyan Arfi (23) Mahasiswa
asal Kedung Lumbu, Pasar Kliwon.
Putri Solo 3: Dian Gratia Christy (23)
Mahasiswa asal Nusukan, Banjarsari
Putra Solo Favorit: Anggar Baskoro (22)
Mahasiswa asal Jebres, Jebres.
Putri Solo Favorit: Laurinsia Liona
Swandito (24) Mahasiswa asal Setabelan, Banjarsari
Putra Solo Persahabatan: Mirzam Arqy Ahmadi
(21) Mahasiswa asal Joyosuran, Pasar Kliwon.
Putri Solo Persahabatan: Sulistyaningrum
(19) Mojosongo, Jebres
Putra Solo Lingkungan: Cronwicov Deswan
(21) Mahasiswa asal Pajang, Laweyan
Putri Solo Lingkungan: Dewi Sekarsari (19)
Mahasiswa asal Manahan, Banjarsari.

Komentar
Posting Komentar