Tri Winarno S Pd Gen Zet yang Literat




“Membaca bukan bagian terpisah dari menulis. Keduanya adalah pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan penalaran individual, pemikiran kritis yang independen, dan pembangkitan kepekaan terhadap kemanusiaan ...". (Karlina Leksono, Buku dalam Indonesia Baru, 1999)
Tak ada yang menduga jika buah pemikirannya bisa menggoyahkan para dewan juri, sehingga ia pun dinobatkan sebagai juara II menulis artikel dalam “Festival Literasi Semangat Berkarya Membangun Bangsa” di Surakarta.
Dialah Tri Winarno S Pd, guru SMK Negeri 2 Klaten, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.   Dalam keseharian, ia tinggal di  Trayon 02/02, Kebonan, Karanggede, Boyolali.
“Saya tidak menyangka bisa menjadi pemenang. Alhamdullilah, semoga karya saya berguna bagi pembaca,” kata Tri Winarno kepada wartawan GENTA.
Berbagai langkah untuk menggaet minat baca bagi siswa bukan perkara mudah. Gerakan 15 menit membaca sebelum jam pelajaran, tak seperti yang diharapkan.  Maka, dibuatlah inovasi dengan menggandeng tim dari luar sekolah.
“Inovasi untuk menggerakkan siswa berliterasi terus saya dan sekolah lakukan. Kali ini saya menggandeng komunitas penggerak literasi dari luar sekolah. Jatuhlah pilihan saya pada Bilik Literasi Solo yang digawangi oleh Bandung Mawardi. Bersama Bilik Literasi, saya bahu-membahu menggerakan siswa untuk memantik daya baca, daya nalar, dan daya tulis mereka. Pada tahun 2017, dari hasil kolaborasi sekolah dengan Bilik Literasi lahirlah dua buku, yaitu buku karya para siswa berjudul Nongkrong: Sketsa Kuliner dan Sepeda Motor dan buku kumpulan tulisan para guru berjudul Romantika Alat Tulis Sekolah.
Apresiasi juga diberikan bagi siswa yang tulisannya menjadi tulisan terbaik. Hadiah buku bacaan pun dibagikan sebagai penanda bahwa jerih payah mereka berpikir kritis, bernalar, dan menulis dihargai. Tawa dan senyum tanda bahagia kala menerima hadiah buku menyiratkan keoptimisan mereka menatap masa  depan. Masa depan sebagai Generasi Z (GenZet) yang literat.
Gen Zet yang Literat
Sri Winarno menulis artikel berjudul Gen Zet yang Literat. Ia merasa sedih dan miris tatkala membaca sebuah berita yang ditudingkan oleh Most Literate Nation in the World terbitan Central Connecticut State University. Dalam sebuah rilis terbitan tahun 2016, Indonesia ditempatkan di urutan ke-60 dari total 61 negara soal minat membaca.
“Hal ini menjadi kenyataan yang tragis dan ironis. Saat Indonesia oleh perusahaan riset dan analisis dari Inggris, TNS, dinobatkan sebagai pengguna instagram ke-3 terbesar di dunia, pengguna twitter ke-3 terbesar di dunia, dan pengguna facebook ke-4 terbesar di dunia, Indonesia justru jungkir balik, keteteran, dan tertinggal jauh dalam hal minat baca. Ini mengindikasikan kemelekan bermedia sosial masyarakat kita tak sebanding dengan kemelekan mereka membaca buku,” kata Sri Winarno.
Sri Winarno, mengutip istilah Fauzi Sukri, seorang esais dari Solo,
//“Saat ini kita masuk zaman digital yang serba cepat, namun di sisi lain kemampuan membaca kita masih pada taraf kecepatan purba-primitif yang sangat lambat. Aktivitas hidup yang serba cepat dan penuh tuntutan seolah membuat tubuh dan pikiran mempunyai alasan yang kuat dan tepat untuk menjauh dari aktivitas membaca. Hal itu pulalah yang membuat budaya membaca kita seolah tak bergerak.”//
Dalam novel Rumah Kertas (2016) karya Carlos Maria Dominguez asal Argentina, tetap mampu menjaga kegairahan membaca walau dilanda kesibukan sehari-hari yang menumpuk dan melelahkan.
//“Berapa jam sehari yang bisa saya peruntukkan buat membaca? Paling banter empat, lima jam. Saya kerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tidak enteng tanggung jawabnya. Tapi sepanjang waktu itu yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. Di gua inilah–izinkan saya menggunakan istilah itu—saya luangkan beberapa jam yang menyenangkan sampai pukul sepuluh...”//
Membaca buku merupakan sebuah keasyikan yang dirindukan bila sudah menjadi pembiasaan. Seperti laku makan dan minum yang seolah merupakan kewajaran di kala lapar dan haus. Begitu pun dengan membaca buku. Sebab dengan membaca, nutrisi hati dan otak akan tercukupi dan terpuaskan. Kesadaran inilah yang mesti digaungkan di generasi mendatang. Membaca itu asyik, membaca itu menyenangkan.
Mengapa budaya membaca masih rendah?
Dalam tulisannya, Sri Winarno mengutip Syarifudin Yunus, pendiri TBM Lentera, menyatakan ada beberapa faktor yang membuat budaya membaca masih rendah. Pertama, karena sistem pembelajaran yang belum memuat keharusan membaca. Kedua, semakin banyaknya hiburan (tayangan televisi, gawai, play station) sehingga menyingkirkan waktu untuk membaca. Ketiga, budaya verbal yang masih dominan sehinggga menyulitkan untuk membudayakan membaca buku. Keempat, kurangnya kepedulian orang tua, lingkungan, dan sekolah akan arti pentingnya membaca buku. Kelima, sifat malas yang masih merajalela. Keenam, ketiadaan akses pada sarana dan prasarana untuk mendapat buku bacaan.
“Apa yang dikatakan Yunus bisa saja benar. Kita tentu masih ingat dengan sebuah riset kecil yang dilakukan oleh sastrawan Taufiq Ismail tentang kewajiban membaca buku sastra di SMA yang terdapat di 13 negara pada Juli-Oktober 1997. Dari ketiga belas negara tersebut hanya Indonesia yang di tingkat SMA tidak mewajibkan membaca buku sastra. Inilah yang kemudian oleh Taufiq Ismail disebut dengan “tragedi nol buku”. Ironisnya sampai saat ini, kurikulum yang ada juga tidak mewajibkan siswa untuk mengkhatamkan beberapa buku sastra selama masa 3 tahun di sekolah. Dikarenakan pijakan yang tidak kokoh dan tidak kuat inilah akhirnya sekolah-sekolah gamang mewajibkan siswanya menamatkan membaca buku-buku sastra,” ujar Sri Winarno.
Dikisahkan Sri Winarno, bermula dari keprihatinan melihat masih rendahnya budaya berliterasi di kalangan generasi muda itulah pada 14 Mei 2018, bertempat di Ruang Aula Gedung Lama Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, beberapa mahasiswa dan guru berkumpul untuk berdiskusi dalam sebuah perhelatan dengan tajuk Lokakarya Kepenulisan. Acara yang digagas Gerakan Menulis Buku Indonesia bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah itu sejatinya bertujuan untuk menggerakkan budaya berliterasi di kalangan pendidik dan siswa.
“Perhelatan itu pun masih menyisakan tanda tanya yang menganga. Sebagian pendidik masih merasa galau dan bingung tentang cara yang paling efektif menggerakkan siswa agar bersemangat dalam berliterasi. Dalam tanya jawab yang berlangsung kala itu, beberapa guru mengungkapkan bahwa berbagai cara sudah ditempuh guna merangsang dan menggerakkan siswa agar mau membaca. Gerakan 15 menit membaca buku sebelum pembelajaran dimulai yang pernah dicanangkan Anies Baswedan selama menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pun sudah dilakukan. Namun, hasil dari gerakan itu masih jauh panggang dari api,” paparnya.
Membudayakan berliterasi memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi dengan ketekunan dan kesabaran, tidak ada suatu tindakan yang tidak menampakkan hasil. Sering kita mendengar sebuah ungkapan bahwa hasil tidak mengkhianati proses. Tentu saja proses yang dimaksud merupakan proses yang konsisten, tersistem, dan inovatif. Dalam pengalaman saya sebagai pendidik, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam rangka menumbuhkan kegairahan berliterasi di kalangan siswa maupun guru. Instruksi untuk membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran pernah saya lakukan di sekolah. Hanya saja memang belum memberi hasil yang maksimal. Ketidakmaksimalan ini bisa saja terjadi karena siswa tidak memahami apa tujuan sebenarnya mereka membaca buku. Selain itu tidak adanya tagihan kepada siswa tentang hal yang dibaca juga berimbas pada lemahnya daya juang mereka dalam membaca.
Untuk itulah saat menyosialisasikan program kegiatan membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran, saya mesti memastikan bahwa buku yang akan mereka baca merupakan buku yang mereka suka. Selain itu, ada langkah lanjutan yang saya berikan kepada siswa tatkala mereka sudah membaca buku yaitu menuliskannya dalam buku khusus gerakan literasi. Dengan tindak lanjut itulah diharapkan siswa dapat mengambil inti bacaan dari buku yang mereka baca. Akan tetapi waktu yang hanya 15 menit memang tak memberi ruang yang cukup bagi siswa untuk membaca buku dan menuliskan intisari bacaan. Akhirnya, gerakan ini pun belum memberikan dampak nyata dari gerakan literasi.
Sejak itulah dilakukan inovasi, menggandeng Bilik Literasi Solo, Bandung Mawardi. Hasilnya, sekolah bisa menerbitkan buku karya siswa dan buku hasil kolaborasi sekolah. Luar biasa, bukan?

BIODATA
Nama : Tri Winarno, S. Pd.
Alamat : Trayon 02/02, Kebonan, Karanggede, Boyolali
Instansi : SMK Negeri 2 Klaten
Email : 3win78@gmail.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanjat Tiang Bendera Raih Beasiswa Hingga S1

Nining Mariyaningsih SPd MPd: Pembelajaran Inovatif Si “Apem Manis”

Endang Rahayu MH SPd MPd, Putri Gunung Merapi Pengoleksi Prestasi