Wartawan Zaman Now? Berburu Buku Bekas pun Oke...
Apa kabar wartawan zaman now? Apa kabar pimpinan
redaksi dan redaktur zaman now? Sebagian orang mengira, para jurnalis itu
belajar hanya melalui gadged (handphone) via google saja.
Jika itu perkiraan Anda, jelas salah besar. Buktiknya,
pemimpin redaksi, Daniel Tito, dan redaktur pelaksana C. Gunharjo Leksono,
harus terus belajar dari berbagai referensi. Entah itu di perpustakaan daerah
di Solo, perpustakaan monumen pers Solo, hingga berburu buku ke pasar loak (barang bekas/buku bekas)sekalipun.
Memang, berbagai koran dan majalah berita bisa
diunduh di internet. Sudah hal biasa, berita media nasional berseliweran setiap
hari di internet dan medsos. Gratis pula. Namun, para redaktur dan pimred
ternyata lebih nyaman, lebih nikmat, jika menikmati, menyantap berita dari
media cetak, termasuk buku-buku berkualitas dari penulis papan atas.
Nah, salah satu jujugan sehari-hari, yang
telah jadi langganan sejak masih di bangku kuliah hingga bekerja puluhan tahun
di dunia jurnalistik, Toko Buku Bekas Alun-alun Lor (Selatan). Di tempat inilah, media lawas maupun anyar
(terpaut beberapa minggu/bulan) ada. Novel, cerpen, buku-buku Megawati, Jokowi,
SBY, ada. Bahkan, guku lawas semacam Gatoloco, Serat Centini, hingga cerita
wayang ada.
Lalu, ngapain susah-susah ke toko loak, kalau
ada google? Itulah yang dirasakan Gunharjo, yang merasa lebih nyaman membaca
buku-buku, majalah, karena laporannya panjang, mendalam, dan bisa dibaca kapan
pun. Selain itu, membaca majalah cetak lebih nyaman di mata daripada membaca
berita di handphone. Ini juga bagian dari membudayakan membaca, bagian dari
literasi yang digalakkan Kemdikbud.
Semua ini demi pembaca. Agar tulisan yang
tersaji di hadapan Anda menjadi bacaan yang enak dibaca dan perlu. Bagaimana dengan Anda?

Komentar
Posting Komentar